Cultural Invasion: Jepang Vs Korea

| Jumat, 29 November 2013
Bukan hanya demam boyband, girlband atau manga saja yang merasuki berbagai lapisan penduduk Indonesia, tetapi juga budaya tempat mereka berasal.


"Saigo no kisu wa taba kono flavor ga shita / Nigakute setsunai kaori / Ashita no imagoro ni wa / Anata wa doko ni irundarou / Dare wo omotterundarou" – First Love by Utada Hikaru.


"Neon alkkamalkka alkkamalkka neomu yeppeun miinah / Nal michyeotdago malhaedo nan niga jotda miinah / Nuga jeonhaejweo my baby, to my baby naega yeogi itdago marya / Gidarinda marya" – Bonamana bySuper Junior.


Anda tidak asing dengan lirik lagu di atas? Yup, lirik pertama merupakan lagu yang sangat nge-hits di tahun 90an yang dibawakan oleh penyanyi asal Jepang, Utada Hikaru. Sedangkan lirik lagu kedua sudah pasti masih akrab di telinga karena sepenggal lirik itu berasal dari lagu boyband asal Korea Selatan, Super Junior.


Selama ini kita hanya tahu bahwa anak muda di Indonesia banyak yang tergila-gila dengan ketampanan serta hentakan musik yang dibawakan oleh para anggota boyband atau girlband asal Korea Selatan. Bukan hanya Hallyu (Korean Wave), karena jauh sebelumnya para penduduk Indonesia sudah lebih dulu menggandrungi segala sesuatu yang berasal dari Jepang.


Tidak sekadar suka terhadap artis, musik atau kartun-kartun asal Jepang saja, tapi banyak penduduk Indonesia yang juga tertarik untuk mengenal lebih jauh budaya Negeri Sakura tersebut. Bila Anda belum "terinfeksi" dengan ragam budaya dua negara Asia Pasifik itu, berikut ulasan beberapa budaya mereka yang menarik untuk Anda ketahui.


* Korea Selatan


Lee Min Ho, Kim Bum, dan Jessica "SNSD" hanyalah tiga dari sekian banyak artis asal Korea Selatan yang sangat digilai oleh para remaja di Indonesia. Namun, kecintaan para fans mereka di sini tidak sebatas mengumpulkan poster dan membeli DVD film-film, tapi banyak dari mereka juga tertarik untuk mengikuti apa yang dilakukan atau bahkan apa yang idolanya makan.


Anda pecinta Lee Min Ho pasti akrab dengan serial drama yang diperankannya, yaitu Boys Before Flowers. Dalam sebuah episode terlihat bagaimana Lee Min Ho atau Gu Jun Pyo memakan kimchi dengan lahap, dan sontak mulai saat itu banyak masyarakat Indonesia yang penasaran dengan rasa kimchi.


Sebenarnya Lee Min Ho bukanlah satu-satunya bintang yang memperkenalkan masakan khas Korea ke Indonesia, karena kuliner mereka memang sudah kerap ditampilkan dalam beberapa serial drama.


Bahkan ada salah satu serial drama yang mengulas tentang makanan khas kerajaan Korea, yaitu serial drama berjudul Jewel in The Palace. Di sini semua masakan-mulai dari tampilan dan rasa-sangat apik digambarkan, sehingga siapa saja orang yang menontonnya pasti akan "ngiler".


Kimchi, jenis asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas, juga bukan satu-satunya makanan yang sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia, karena masih ada bibimbap. Semangkuk nasi putih dengan campuran lauk berupa sayur-sayuran, daging sapi, telur, dan sambal gochujang ini kerap kali menjadi santapan Song Hye Kyo dan juga Rain dalam serial drama romantis mereka, Full House, dan lewat drama serial inilah kepopuleran bibimbap sampai ke telinga orang-orang Indonesia.


Selain makanan, pakaian tradisional Korea Selatan, hanbok, juga tak luput dari perhatian masyarakat Indonesia. Hanbok yang pada umumnya menggunakan warna-warna cerah ini sekarang lebih dikenal dengan pakaian gaya Dinasti Joseon, yang dipakai baik untuk acara-acara formal atau semi-fomal seperti dalam perayaan atau festival tradisional seperti tahun baru atau perayaan Chuseok.


Lagi-lagi, pakaian tradisional ini tidak muncul tanpa sebab-hanbok semakin dikenal dengan adanya foto atau rekaman video beberapa artis Korea yang tampil mengenakan hanbok saat merayakan Chuseok pada 11 hingga 13 September. Artis-artis Korea yang kerap tampil menggunakan hanbok pada saat perayaan Chuseok, antara lain G-Dragon, Kim So Eun, IU, Shin Min Ah, 2PM, Moon Geun Yong, SNSD, Rain, Ha Ji Won, dan Kim So Hyun.


Pusat Kebudayaan Korea Selatan


Banyak hal yang ingin diketahui dan dipelajari oleh orang-orang Indonesia, sehingga sangat wajar jika saat ini Pusat Kebudayaan Korea Selatan menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi oleh masyarakat Indonesia yang ingin belajar Korea. Di Pusat Kebudayaan Korea Selatan yang terletak di Gedung Equity Tower lantai 17, Jl. Jendral Sudirman, Sudirman Central Business District, Lot 9, terdapat sejumlah kelas dan aktivitas yang bisa Anda ikuti.

Kelas K-Pop Dance

Tertarik ingin punya body layaknya boyband dan girlband Korea yang bisa menari dengan luwes? Nah, demi memenuhi hasrat orang-orang Indonesia yang ingin belajar menari K-Pop, maka Pusat Kebudayaan Korea Selatan ini menghadirkan kelas dance.

Cukup dengan membayar 150 ribu rupiah, Anda bisa berlatih dance ala girlband Korea Selatan selama sebulan. Kabarnya, kelas tari ini paling banyak diminati, lho. Namun, Anda harus adu cepat untuk mendaftar di kelas dance ini karena hanya dibatasi untuk 20 orang saja.


Kelas Kerajinan Tangan Tradisional Korea

Anda penggemar kerajinan tangan khas Korea? Segera daftarkan diri ke Korean Traditional Boudoir Craft & Patchwork Class, di mana selama satu bulan Anda akan diajari cara membuat barang-barang khas Korea Selatan. Kelas yang satu ini sangat istimewa karena pengajarnya didatangkan langsung dari Korea.

Nonton Film Gratis

Program yang satu ini tentunya sangat cocok buat Anda para penggemar serial drama dan film Korea. Dua kali dalam sebulan, Pusat Kebudayaan Korea Selatan menggelar nonton bareng film-film terbaru. Biasanya Anda harus booking tiket terlebih dulu, berhubung film ini hanya diputar sekali dan berkapasitas 100 orang, alhasil Anda harus jauh-jauh hari memesan tiket.


* Jepang

Meski kini Korean Wave tengah melanda Tanah Air, namun tidak dimungkiri lagi bahwa jauh sebelum itu budaya Jepang telah masuk dan banyak memengaruhi kehidupan sehari-hari para remaja Indonesia. Masuknya budaya Jepang ke Indonesia bukanlah dikarenakan kita notabene pernah dijajah oleh Jepang, tapi masuknya budaya Jepang saat ini menggunakan media berbeda dibandingkan dengan zaman dahulu.

Hampir semua remaja di Indonesia saat ini pasti mengenal apa yang disebut dengan Anime (film animasi/kartun Jepang), Manga (komik Jepang), Tokusatsu (Action Heroes Jepang), game, musik (J-Pop), dan film (dorama). Dari situlah masyarakat Indonesia mulai akrab dengan berbagai hal yang "berbau" Jepang dan mulai tertarik untuk lebih jauh mengeksplorasi budaya Jepang.


Kalau soal makanan, Jepang tidak kalah dengan Korea Selatan karena sebagian besar masakan mereka juga sudah akrab di lidah orang Indonesia. Sebut saja sushi, makanan khas Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk cantik bersama lauk (neta) yang biasanya berasal dari laut, serta daging dan sayuran.


Tak hanya sushi, bagi para penggemar anime sudah pasti juga sangat mengenal makanan yang dikenal dengan nama onigiri atau "nasi kepal". Onigiri sering tampil hilir mudik menjadi makanan yang sering disantap oleh tokoh-tokoh anime, biasanya onigiri menjadi bekal bagi para pelajar atau pekerja kantoran di Jepang.

Beberapa makanan Jepang yang kini pun mudah ditemukan di Indonesia adalah mie ramen, takoyaki, dan kue Jepang yang terbuat dari beras ketan, yaitu mochi.


The Japan Foundation

Mungkin bagi seseorang yang tergila-gila dengan budaya Jepang tak cukup rasanya apabila hanya sekadar menonton, membaca atau menyantap makanan asal Jepang saja. Oleh karena itu, bagi Anda yang ingin lebih mengenal kebudayaan Jepang lainnya, dapat mengunjungi The Japan Foundation, pusat kebudayaan budaya Jepang yang terletak di Gedung Summitmas I Lt. 2-3, Jl. Jend. Sudirman.

Belajar Bahasa Jepang

Anda yang ingin menguasai bahasa Jepang, The Japan Foundation menyelenggarakan kursus beberapa level berdasarkan standar pendidikan bahasa Jepang (JF Standard). JF Standard—atau standar pendidikan bahasa Jepang JF—adalah perangkat untuk mengetahui tingkat penguasaan bahasa Jepang, yaitu dengan "apa yang dapat saya lakukan dan seberapa jauh saya dapat menggunakan bahasa Jepang".

Kursus Ikebana

Dulu, wanita Jepang menguasai seni Ikebana merupakan sebuah kewajiban, namun bagi masyarakat Indonesia saat ini mempelajari seni merangkai bunga tradisional (kado/jalan kehidupan bunga) di Jepang ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.

Ikebana hanya menggunakan bunga/tanaman segar, dan elemen bunga, ranting, dan batang merupakan bagian yang penting dari sebuah rangkaian. Bahkan rekahan bunganya pun memiliki arti yang khusus.


Bunga yang merekah penuh melambangkan masa lalu dan bunga yang setengah merekah melambangkan saat ini, sementara kuncup bunga merupakan lambang masa depan.


Ikebana memiliki teknik merangkai berbeda dibandingkan dengan teknik flower arrangement., dan hasil teknik penyusunan ini jelas tampak dari penampilannya. Seperti juga hal-hal mendasar lainnya di Jepang, seni merangkai bunga Ikebana bukan hanya elemen keindahan, tetapi memiliki filosofi yang mendalam.


Kursus Cha No Yu

Tak pernah disadari sebelumnya bahwa ternyata meminum teh saja memiliki tahapan-tahapan yang harus dilakukan, tapi di situlah letak keunikan dari salah satu kursus yang disediakan oleh The Japan Foundation bagi masyarakat Indonesia yang mau tahu lebih jauh tentang kebudayaan Jepang.

Persiapan serta upacara minum teh merupakan sesuatu yang sangat penting, dan dari sisi estetika telah berkembang menjadi suatu seni tersendiri. Di Jepang, apabila orang diundang untuk minum teh, mereka akan duduk di sebuah ruangan kecil sambil berbincang-bincang akrab dengan tuan rumahnya.


Kursus upacara minum teh (cha no yu) ini dibuka untuk tingkat dasar. Melalui kursus diharapkan para peserta dapat memahami salah satu kebudayaan Jepang dan menerapkan hal-hal positif yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. Chanoyu sendiri merupakan rangkaian seni dan filsafat hidup yang ditampilkan dengan tingkat kesopanan yang sangat tinggi, anggun, dan dengan tata krama menawan.

Di Japan Foundation, pemerintah Jepang menghadirkan staf pengajar yang merupakan
Pakar Upacara Minum Teh Jepang, Chado Urasenke Tankokai Indonesia, pemegang sertifikat pengajar yang diakui oleh pemerintah Jepang.


Fans Seleb


- Indra Bekti


"Dulu bisa dibilang saya sangat suka dengan gaya ala Jepang, sampai sekarang pun masih sedikit-sedikit. Tapi saya orangnya memang suka fashion, musik dan segala macemnya, jadi saya suka mengikuti perkembangan fashion."


- Chika Jessica


"Aku suka gaya ala Jepang dan Korea, tapi kalau disuruh pilih gaya aku memang lebih ke Korea. Orang-orang juga suka dandanan aku begini. Kayak rambut sekarang ini nama modelnya Bengkoang Korea."


- Tike Priatnakusumah


"Suka Korea? Lebih tepatnya nge-fans sama Super Junior, MR Simple! Saya suka banget sama SuJu, sampai mereka konser di Singapura saya samperin."

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲